Skip to content

Bukan Sekedar Gratis

Oktober 19, 2009
gillette

King Camp Gillette adalah nama seorang inventor yang sangat terkenal. Bukan saja karena ia berhasil membuat merek pisau cukur yang telah mendunia, namun karakteristik bisnisnya memang sangat revolusioner. Berasal dari Chicago, Amerika, Gillette adalah seorang pebisnis yang berpikiran bahwa sudah seharusnya sebuah korporasi dimiliki oleh rakyat, bukan oleh segelintir orang kaya.

Ia juga pemasar yang handal. Langkah pemasaran yang ia lakukan didasari oleh kesadarannya bahwa alat cukur dianggap sebagai komoditas biasa yang tak berguna tanpa pisaunya. Maka dari itu, langkah pemasaran yang ia lakukan ketika itu adalah membagikan alat cukurnya secara cuma-cuma dan mengambil untung dari pisaunya.
Gillette kemudian menjadi merek cukur yang popular ketika itu dan bahkan hingga sekarang. Semuanya dilakukan karena praktek pricing –yang secara tradisional dikenal sebagai cross-subsidy atau secara modern pemasaran gratis dalam tanda kutip– yang ia perkenalkan, di mana menggratiskan sesuatu kepada konsumen adalah langkah pemasaran yang merupakan sebuah bagian dari strategi keseluruhan.
Praktik pemasaran seperti ini sekarang sudah umum. Contohnya, semakin banyak pemasar di industri seluler yang memberikan ponselnya secara cuma-cuma, yang dijual adalah paket bulanannya. Hal ini juga dapat kita lihat di industri printer, meskipun tidak sampai gratis, tapi harga sebuah printer sudah semakin murah, sedangkan yang mahal adalah tintanya. Jika Anda seorang pemasar produk alat pembikin kopi yang dijual di kantor-kantor, mungkin Anda bisa gratiskan alatnya, dan memahalkan kopinya.

Cerita mengenai Gillette dan praktik “gratis” ini dikupas oleh Chris Anderson di dalam Freenomics, yang mengatakan bahwa masa depan ada pada harga nol, alias gratis, dan contohnya sudah semakin banyak di berbagai industri.

Ditinjau dari dunia internet, sudah banyak perusahaan yang menawarkan layanan gratis, mulai dari Skype hingga YouTube. Mereka dapat menarik banyak pengguna dengan layanan gratis seperti ini, sembari berharap sebagian di antara mereka meng-upgrade diri menjadi pelanggan premium yang menawarkan fitur-fitur yang lebih baik. Layanan seperti ini ditawarkan begitu murah, karena marginal cost, biaya untuk pelanggan gratisan, begitu kecil sehingga tidak masalah bagi mereka untuk menawarkan secara gratis.

Konsep freenomics yang diusulkan oleh Chris Anderson memang valid. Apalagi jika semakin banyak perusahaan yang menyediakan platform, maka lama kelamaan kita akan melihat praktik pricing gratis dan premium (freemium) akan ada di mana-mana.

Menurut kami sendiri, konsep free apakah itu lewat subsidi atau malah freemium akan semakin membanjir. Satu yang pasti adalah karena dunia New Wave adalah dunia yang horizontal, di mana pada akhirnya penetapan suatu harga harus dilakukan bersama-sama. Karena produknya sendiri di-co-create bersama pelanggan, maka dari itu penetapan harga harus melalui pendekatan negosiasi yang horizontal. Dengan demikian harga menjadi semakin dinamis karena informasi untuk menetapkan suatu harga berkembang dari mana-mana dan semua serba transparan.

Sumber: Kompas, Minggu, 11 Oktober 2009 dengan beberapa perubahan redaksi

From → Dunia Usaha

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: