Skip to content
Tags

, ,

Sosro: Bukan Kisah Satu Kedipan Mata

Oktober 22, 2009
sosro

Lewat perjalanan panjang, Teh Botol Sosro merajai pasar minuman kemasan di Tanah Air. Mengalahkan Coca-Cola dan Pepsi. Gurita bisnis Sosro kian melebar bila sukses menggenggam master waralaba McDonald’s Indonesia.

Sukses merajai pasar minuman dalam kemasan tak membuat PT Sinar Sosro, produsen Teh Botol Sosro, ongkang-ongkang kaki. Mereka malah makin giat berekspansi. Termasuk, misalnya, mengakuisisi master waralaba McDonald’s Indonesia langsung dari McDonald’s International, yang memiliki 97 gerai di Indonesia.

Proses pembelian ini, kabarnya, memang belum tuntas. Apalagi, Bambang N. Rachmadi, pemilik master waralaba McDonald’s Indonesia lama yang menguasai 13 gerai, sedang mengajukan tuntutan hukum kepada McDonald’s International. Bambang merasa dilangkahi dan tidak diajak berunding dalam proses penjualan hak waralaba dan penjualan aset ke PT Sinar Sosro.

Jika proses pembelian itu berakhir mulus, PT Sinar Sosro yang diperkirakan telah mengeluarkan dana pembelian Rp 250 milyar akan membuka 90 gerai baru Mc Donald’s di Indonesia selama lima tahun mendatang. PT Sinar Sosro tertarik masuk ke bisnis usaha makanan siap saji, olahan, dan katering tak lain karena kegurihan pasar. Dalam setahun, omset bisnis ini di Indonesia bisa menembus angka Rp 1.000 trilyun.

Selain itu, dengan memegang lisensi waralaba McDonald’s, penjualan produk minuman PT Sinar Sosro diperkirakan akan terus meroket dan berkibar. Saat ini, Teh Botol Sosro menguasai lebih dari 30% pangsa pasar minuman dalam kemasan. Pangsa mereka lebih tinggi dari aneka produk minuman ringan merek global, seperti Coca-Cola dan Pepsi.
Menurut Presiden Direktur PT Sinar Sosro Joseph S. Sosrodjojo, produksi The Botol Sosro sudah menembus angka 2,5 milyar dan 55 juta Teh Kotak pada Februari lalu. Mereka juga sukses meraup untung Rp 1,8 trilyun pada tahun lalu. Produk-produk mereka juga diekspor ke berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Amerika Serikat. Segera menyusul, ekspor ke Timur Tengah.
***

Joseph menuturkan, perusahaan keluarga ini bermula dari usaha kakeknya, Sosrodjojo. Pada awal 1940-an, sang kakek mendirikan perusahaan teh seduh di kota Slawi, Jawa Tengah. “Kota ini sangat kecil. ‘Kota kedipan,’ kata istri saya. Dan, kalau ke Slawi, jangan berkedip, karena sekali kedip, kotanya akan terlewat,” tutur Joseph sembari tertawa.

Usaha sang kakek yang mengusung merek Teh Cap Botol itu sukses merajai pasar di wilayah Jawa Tengah. Lalu, pada 1953, Sosrodjojo melirik pasar kota Jakarta. Sosrodjojo menilai, jika ingin menjadi produk nasional, harus bisa menguasai Ibu Kota.

Sebagai pendatang baru, Sosrodjojo berupaya memakai strategi promosi memikat. Ia memutuskan menggunakan model product sampling alias cicip rasa. “Cicip rasa pertama kali mereka lakukan di tempat-tempat keramaian, PRJ, atau tempat orang kumpul,” ujar Joseph.
Awalnya, model cicip rasa ini tak diminati. Sebab calon konsumen tidak sabar jika harus menunggu air mendidih, menyeduh teh, dan menunggu dingin. Kerumunan yang sempat membengkak pun lama-kelamaan menyusut sebelum teh siap dicicipi. Meski gratis, nyaris tak ada yang bersedia mencicipi.

Kegagalan ini memicu inovasi lain. Teh diseduh di kantor, lalu dimasukkan ke panci dan dibawa ke tempat promosi. “Tapi, masalahnya, jalanan saat itu masih banyak lubang, sehingga teh kami yang diangkut dengan mobil bak terbuka banyak yang tumpah di jalan,” kata Joseph.

Pengalaman tak manis ini malah memunculkan ide cemerlang. Teh yang sudah diseduh dimasukkan ke dalam botol. Cara ini berhasil memikat para pengunjung karena praktis dan cepat.

Penjualan teh seduh dalam botol itu akhirnya ditekuni sejak 1969 dengan merek Teh Botol Sosro (mengambil nama depan sang kakek). Melihat peluang pasar yang menjanjikan, pada 1974 Sosrodjojo beserta empat putranya (Soemarsono, Soegiharto, Soetjipto, dan Surjanto) mendirikan PT Sinar Sosro dengan satu pabrik di kawasan Cakung, Bekasi. Perusahaan ini tercatat sebagai pabrik teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan di dunia.
***

PT Sinar Sosro melengkapi keberadaan PT Gunung Slamat yang telah berdiri di Slawi. Perusahaan ini memproduksi teh kering siap saji dengan beragam merek, mulai Teh Celup Sosro, Teh Cap Botol, Teh Poci, Teh Terompet, Teh Sadel, Teh Sepatu, hingga Teh Berko.

Sejak 1990-an, bisnis keluarga Sosrodjojo berada di tangan generasi ketiga. Cucu-cucu Sosrodjojo makin kreatif mengembangkan bisnis keluarga ini. Salah satu wujud kecerdikan mereka dalam menguatkan merek Teh Botol Sosro adalah lewat slogan “Aslinya Teh” pada 1996. Dilanjutkan setahun kemudian dengan slogan “Ahlinya Teh”. Dan yang paling fenomenal adalah slogan “Apa Pun Makanannya, Minumnya Teh Botol Sosro”, yang meluncur sejak tahun 2002.

Slogan ini membuat Teh Botol makin menempel di benak konsumen. Berdasarkan riset Swa, bulan lalu, Teh Botol Sosro (68%) menempati peringkat pertama merek yang dipakai konsumen pada kategori minuman dalam kemasan. Frestea (11,3%), Fanta (5,2%), dan Coca-Cola (5,2%) menyusul di peringkat selanjutnya.

Di pasar teh siap minum dan teh kemasan, penguasaan pasar Teh Botol Sosro malah mencapai 75%. Serbuan teh siap minum merek asing, seperti Hi-C, Tekita, Lipton Tea, dan Frestea, tak sanggup menggoyang dominasinya. Posisi Teh Botol yang demikian kuat memang ditopang dengan sikap fanatik konsumen, yang tak mau minum teh kemasan selain Teh Botol Sosro.

Kehadiran para pemain baru malah membuat PT Sinar Sosro makin ligat berakrobat. Mereka meluncurkan produk-produk anyar: Fruit Tea, Joy Tea Green, Tebs, dan Happy Jus. Produk-produk teh beraneka cita rasa dan kombinasi ini ternyata juga diminati pasar, terutama kalangan muda.
Tak pelak, bisnis yang kini dikomandani Joseph itu pun kian menggurita. Grup Sosro punya 11 kantor cabang dan 146 kantor di kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Kapasitas pabrik Sosro lebih dari 1 trilyun liter, dengan jumlah karyawan 8.480 orang.

Sumber: GATRA 10 JUNI 2009

From → Dunia Usaha

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: