Skip to content

Harun ar-Rosyid dan Abu Nuwas (Bagian 1)

November 23, 2009
padang pasir

Alkisah

Konon pada zaman Kholifah Harun ar-Rosyid -salah satu kholifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (di Indonesia terkenal dengan nama Abu Nawas). Kholifah mempunyai hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya, sehingga kholifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.

Kemasyhuran Kisah Ini

Kisah ini sangat masyhur di negeri Nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan kholifah ini beserta teman karibnya Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harun ar-Rosyid, maka yang terbetik dalam bayangan mereka adalah gambaran seorang raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi dengan minum khomr (minuman keras). Jarang sekali di antara kalangan awam kaum muslimin yang mengetahui siapa sebenarnya kholifah Harun ar-Rosyid kecuali dari cerita yang beredar ini.

Akar Cerita
Asal-usul utama cerita ini bersumber dari sebuah buku dongeng Alfu Lailatin wa Lailah (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongeng. Dan yang namanya ‘dongeng’ berarti ia tidak punya asal-usul sanad (mata rantai periwayat/penyampai cerita) yang terpercaya. Isinya pun hanyalah khayalan belaka; misalnya, cerita tentang Ali Baba dengan perampok, kisah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harun ar-Rosyid.

Kitab ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga Hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai masa Daulah Mamalik.

Kitab ini sama sekali bukan kitab sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu. Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-tahdzir (memperingatkan umat terhadap) kitab ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah al-Ustadz Anwar al-Jundi yang berkata: “Kitab Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah kitab yang campur baur tanpa penulis. Kitab ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan isinya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri Persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya.”

Ibnu Nadim dalam al-Fahrosat berkata tentang kitab ini: “Itu adalah kitab yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan.” Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Kutubun Hadzadzaro minha Ulama’:2/57.

Syaikh Sholih al-Fauzan pernah ditanya: “Sebagian kitab sejarah terutama kitab Alfu Lailatin wa Lailah menyebutkan bahwa kholifah Harun ar-Rosyid adalah seorang yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum khomr, dan lainnya. Apakah ini benar?” Beliau menjawab: “Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Kitab Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah kitab yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah kitab tersebut. Harun ar-Rosyid dikenal sebagai orang yang sholih dan istiqomah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat ke dalam kitab ini. Tidak layak bagi seorang muslim untuk membaca kitab kecuali yang ada faedahnya, seperti kitab sejarah yang terpercaya, kitab tafsir, hadits, fiqih, dan aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun kitab yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca kitab seperti itu.” (Nur ‘Ala Darb, Fatawa Syaikh Sholih Fauzan hlm. 29)

Hakikat Cerita Ini

Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Kholifah Harun ar-Rosyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka ialah:

  • Syaikh Sholih Fauzan, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.
  • Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al-Jibrin, beliau berkata: “Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kezaliman yang nyata…” (Fatawa Islamiyyah: 4/187)
  • Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali berkata: “Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka dari kalangan orientalis. Mereka menggambarkan bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para kholifah kaum muslimin tenggelam dalam syahwat dan kelezatan dunia, kurang memperhatikan kepentingan kaum muslimin; sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Kholifah Harun ar-Rosyid dan yang lain.” (al-Jama’at Islamiyyah hlm. 430)

Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas juga siapa dan bagaimana sebenarnya Kholifah Harun ar-Rosyid.

Bersambung…

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 05 th. ke 8 1429/2008

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: