Skip to content

Harun ar-Rosyid dan Abu Nuwas (Bagian 2)

November 24, 2009
rumah padang pasir

Siapakah Abu Nuwas?
Dia adalah Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyyah.

Kepiawaiannya dalam menggubah sebuah qoshidah syair membuat dia sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di zamannya.

Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara tentang masalah khomr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut sebagai khomriyyat.

Abu Amr asy-Syaibani berkata: “Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam kitab-kitab kami.”

Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai seorang yang zindiq meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutan zindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Imam al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah (14/73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata: “Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisahnya yang berhubungan dengan masalah khomr, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita sangat banyak dan keji, bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pelaku zina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata: ‘Dia merusak dirinya sendiri.’ Hanya saja, yang tampak bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja, adapun tuduhan sebagian orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya meskipun dia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian.”

Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan semoga Alloh menerima taubatnya. Salah satu yang menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat, yang artinya:

Ya Alloh, jika dosaku teramat sangat banyak
Maka saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar

Saya berdo’a kepada-Mu dengan penuh tadhorru’
sebagaimana yang Engkau perintahkan

Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku,
lalu siapa yang akan merahmatiku

Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja
lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon

Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu
kecuali hanya sebuah pengharapan
juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang berserah diri

Semoga Alloh menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri hidupnya dengan taubat kepada Alloh. Dan semoga kisah yang diceritakan oleh Ibnu Kholikan dalam Wafayatul-A’yan (2/102) benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi’ berkata: “Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dengan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya, kukatakan: ‘Wahai Abu Nuwas, apa balasan Alloh terhadapmu?’ Dia menjawab: ‘Alloh mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas yang bertuliskan: … (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas).”

(Lihat tentang Abu Nuwas dengan agak terperinci pada al-Bidayah wan-Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir: 14/64-86 dan Wafayatul-A’yan: 2/95-104)

Siapakah Harun ar-Rosyid
Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak untuk membahas siapakah sebenarnya Kholifah Harun ar-Rosyid.

Beliau adalah Amirul-Mukminin Harun ar-Rosyid bin Mahdi al-Qurosyi al-Hasyimi. Beliau adalah salah satu kholifah Bani Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani Abbasiyyah mencapai zaman keemasannya.

Beliau dikenal sebagai seorang raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai kitab sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad, begitulah seterusnya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershodaqoh dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi haji beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershodaqoh. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat La ilaha illalloh, beliau mengerjakan sholat setiap harinya seratus roka’at sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sakit.” (al-Bidayah wan-Nihayah: 14/28)

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ammar bin Laits al-Wasithi berkata: Saya mendengar Fudhoil bin Iyadh berkata: ‘Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun ar-Rosyid. Sungguh saya ingin seandainya Alloh menambah umurnya dengan sisa umurku.’ Berkata Ammar: Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami, namun tatkala Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah, kholifah setelahnya yaitu al-Makmun memaksa manusia untuk meyakini bahwa al-Qur’an makhluk. Saat itu kami mengatakan: ‘Syaikh (Fudhoil) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan.’”

Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari Sunnah dan berusaha menentangnya. Pada suatu ketika Abu Mu’awiyah menceritakan kepada beliau sebuah hadits dari Abu Huroiroh bahwa Nabi Adam dan Musa berdebat, maka paman Kholifah Harun ar-Rosyid berkata: “Wahai Abu Mu’awiyah, kapan keduanya bertemu?” Maka Kholifah sangat marah seraya berkata: “Apakah engkau menentang hadits Rosululloh? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala.” Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun ar-Rosyid: “Ini adalah perbuatan zindiq.” Akhirnya, beliau memerintahkan untuk memenjarakannya.

Sebagian orang juga pernah bercerita: “Saya masuk menemui Harun ar-Rosyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Harun ar-Rosyid berkata: ‘Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa al-Qur’an itu makhluk.’”

Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata: “Pada satu hari Harun ar-Rosyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat, lalu dia memanggil Abul-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya: “Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami.” Maka Abul-Atahiyyah menyenandungkan sebuah syair, yang artinya:

Hiduplah semaumu
di bawah naungan istana nan megah

Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi
di sore hari dan di pagi hari

Namun bila jiwa tersengal-sengal
Karena sempit pernapasan dalam dada

Saat itulah engkau baru yakin
selama ini engkau sedang tertipu

Harun ar-Rosyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhl bin Yahya berkata: “Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tapi engkau malah membuatnya susah.” Maka Harun ar-Rosyid berkata: “Biarkan dia, dia melihat kita sedang dalam kebutaan dan dia tidak ingin kita makin buta.”

Suatu saat lainnya, Harun ar-Rosyid memanggil Abul-Atahiyyah lalu berkata: Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair.” Maka Abul-Atahiyyah berkata, yang artinya:

Janganlah kau merasa aman dari kematian walau sekejap saja
Meski kau punya penjaga-penjaga dan pasukan-pasukan

Ketahuilah, panah kematian pasti tepat sasaran
Meskipun orang membentengi diri darinya

Kau ingin selamat, namun kau enggan mengikuti jalannya
Sesungguhnya sebuah kapal tidak berlayar di tempat yang kering

Begitu mendengarnya, Harun ar-Rosyid pun langsung jatuh pingsan.

Inilah sekilas tentang kehidupan Kholifah Harun ar-Rosyid, meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Kholil menulis kitab berjudul Harun ar-Rosyid Amirul-Khulafa’ wa Ajallu Mulukid-Dunya (Harun ar-Rosyid Pemimpin Para Kholifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana kitab ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Salman dalam beberapa tempat di dalam kitab Kutubun Hadzdzaro minha Ulama’.

(Lihat tentang kehidupan Harun ar-Rosyid dengan agak terperinci pada al-Bidayah wan-Nihayah: 14/27-48, Siyar A’lamin Nubala’: 8/183-188)
Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 05 th. ke-8 1429/2008

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: