Skip to content

Dibayar di Akhirat

November 26, 2009
Dibayar di Akhirat

Oleh: Ustadz Abu Faiz

Manusia tidak bisa lepas dari bermu’amalah dengan sesama. Sedangkan Islam -sebagai agama yang sejalan dengan fitrah manusia- telah memberi rambu-rambu kaidah bermua’malah.

Dalam bermu’amalah kita tidak terlepas dari hutang piutang. Ada sebuah amalan berpahala besar yang terselip dalam mu’amalah ini. Dan saatnya kita harus sadar bahwa memberi pinjaman adalah untuk menolong, bukan untuk membelit orang lain.

Alkisah

Dari sahabat Hudzaifah, beliau mendengar Rosululloh bersabda:
Ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian. Lalu datanglah seorang malaikat maut yang akan mencabut rohnya. Dikatakan kepadanya (oleh malaikat maut): “Apakah engkau telah berbuat kebaikan?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak mengetahuinya.” Malaikat maut berkata: “ Telitilah kembali apakah engkau telah berbuat kebaikan.” Dia menjawab: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun amalan baik yang telah aku lakukan selain bahwa dahulu aku suka berjual beli barang dengan manusia ketika di dunia dan aku selalu mencukupi kebutuhan mereka. Aku memberi keluasan dalam pembayaran hutang bagi orang yang memiliki kemampuan dan aku membebaskan tanggungan orang yang kesulitan.” Maka Alloh ‘Azza wa Jalla (dengan sebab itu) memasukkannya ke dalam surga.

Dalam riwayat yang lain:
Alloh ‘Azza wa Jalla mendatangkan seorang hamba dari hamba-hamba-Nya yang Dia beri kecukupan harta, lalu Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan: “Apa yang telah engkau kerjakan ketika di dunia?” -Kata Rosululloh: “Dan tidaklah mereka dapat menyembunyikan sesuatu pun di hadapan Alloh ‘Azza wa Jalla.”- Dia (hamba itu) menjawab: “Wahai Robbku, Engkau mengutus seorang malaikat kepadaku sedang aku adalah seorang yang senang berjual-beli dengan manusia, dan salah satu kebiasaanku adalah suka memberi tangguh kepada mereka. Kumudahkan urusan orang yang mampu dan kubebaskan orang yang miskin.” Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan: “Sesungguhnya Aku lebih berhak akan hal tersebut daripada kamu.” (Alloh pun memerintahkan:) “Ampunilah hamba-Ku ini.”

Dan dalam riwayat Abu Huroiroh:
Ada seorang pedagang yang sering menghutangi manusia. Apabila dilihatnya si penghutang adalah seorang yang miskin maka dia perintahkan kepada para pekerjanya: “Bebaskanlah hutangnya! Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla juga membebaskan kita semua kelak (di hari perhitungan, Pen).” Maka Alloh ‘Azza wa Jalla pun membebaskan laki-laki tersebut.”

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim.

Ibroh

Alloh Robb kita mengabarkan bahwa seorang hamba tatkala ajalnya telah tiba dan kematian akan segera menjemputnya, datanglah para malaikat Alloh kepadanya. Bila dia seorang mukmin maka mereka (para malaikat) akan memberi kabar gembira kepadanya. Sebaliknya, bila dia adalah seorang yang kafir maka mereka akan menghina dan mengadzabnya serta memberi kabar gembira berupa neraka yang menyala-nyala. Alloh berfirman tentang ganjaran bagi orang-orang mukmin dalam Surat Fushshilat (41) ayat 30.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.”

Dan Alloh berfirman tentang balasan yang akan diterima orang-orang kafir dan orang-orang yang banyak berbuat dosa tatkala sakaratul-maut dalam Surat an-Nisa’ (4) ayat 97.
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Dalam kisah di atas, Rosululloh mengabarkan kepada kita seorang laki-laki yang telah didatangi malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Lalu para malaikat bertanya amalan baik apa yang telah ia lakukan ketika di dunia. Namun, laki-laki itu tidak mendapati amalan baik yang pernah ia kerjakan. Mendengar jawaban pesimis tadi mereka (para malaikat) meminta lagi agar dia teliti kembali apakah benar-benar tidak ada amalan baik yang dia kerjakan. Akan tetapi, dia pun tetap mengatakan tidak ada amalan baik kecuali amalan yang sering dia lakukan sebagai seorang pedagang. Dia selalu berwasiat kepada para pekerjanya untuk memberi tangguh dalam pelunasan hutang kepada orang yang miskin dengan harapan mudah-mudahan Alloh kelak akan membebaskan kesalahan-kesalahan mereka. Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mewujudkan apa yang menjadi harapannya itu dan mengampuni dosa-dosanya.

Mu’amalah yang dilakukan laki-laki tersebut adalah salah satu bentuk mu’amalah yang dianjurkan oleh Islam, yaitu bersikap lunak dalam jual beli, bermurah hati dalam mu’amalah. Rosululloh mendo’akan orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut dalam sabdanya, yang artinya:
“Semoga Alloh merahmati seorang hamba yang bermurah hati tatkala menjual, bermurah hati tatkala membeli, dan bermurah hati tatkala menagih hutangnya.” (HR Ibnu Majah dan Malik)

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim menjelaskan cara bermu’amalahnya Rosululloh.
Dari Abu Huroiroh bahwasanya ada seorang laki-laki datang menagih hutang kepada Rosululloh dan dia bersikap kasar kepada Nabi hingga sebagian sahabat hendak memarahinya. Namun, Rosululloh mengatakan: “Biarkanlah dia, sesungguhnya pemilik hak memiliki ucapan (yang harus dipenuhi). Belikan ia seekor unta lalu berikanlah kepadanya.” Para sahabat berkata: “Tetapi kami tidak mendapati (unta) kecuali yang lebih tua (baik) daripada untanya.” Nabi menjawab: “Belikan saja dan berikanlah kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya.”

Seharusnya seorang muslim selalu berlapang dada dan berlemah lembut dalam mu’amalah dengan orang lain karena Rosululloh adalah suri teladan kita baik dalam urusan ibadah maupun dalam mu’amalah sehari-hari.

Mutiara Kisah

  1. Terdapat keutamaan bagi seseorang yang menagguhkan hutang dan bahkan membebaskannya bagi si miskin yang tidak mampu membayarnya. Orang yang dengan ikhlas menangguhkan beban saudaranya, dijanjikan pertolongan Alloh bagi dia tatkala bertemu dengan-Nya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thobroni, Rosululloh bersabda yang artinya, “Barang siapa yang senang Alloh naungi pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya maka permudahlah urusan orang yang kesulitan atau bebaskanlah bebannya.”
  2. Betapa luas rahmat Alloh atas hamba-Nya. Dengan amal baik yang sedikit seorang hamba mendapat ganjaran yang sangat besar. Laki-laki tersebut diampuni dosanya oleh Alloh dan dibebaskan dari siksa disebabkan amal baik yang dilakukannya sekalipun dia sendiri menganggapnya sangat kecil.
  3. Tidaklah diperbolehkan seseorang dikafirkan sebab melakukan perbuatan dosa yang membinasakan selagi dia adalah seorang mukmin. Lihatlah laki-laki tersebut. Dia tidak berbuat kebaikan selain amalan tersebut. Kendati banyak melalaikan kewajiban-kewajiban yang lain, Alloh tetap membebaskannya dan memberikan kepadanya ampunan-Nya.
  4. Kisah ini menunjukkan sebuah kaidah besar di dalam sifat-sifat Alloh yaitu: “Setiap kesempurnaan yang ada pada makhluk yang tidak ada sisi cacatnya sedikit pun, maka Alloh lebih utama untuk bersifat dengannya”. Di antaranya adalah menangguhkan beban manusia dalam mu’amalah dengan mereka.
  5. Dibolehkan melakukan jual beli kredit sebagaimana kebiasaan laki-laki dalam kisah di atas. Ia bermu’amalah dengan orang lain dalam jual-beli kredit, lalu dia memberi tangguh orang-orang -walaupun mereka memiliki kemampuan- dan membebaskan hutang orang-orang miskin yang tidak sanggup melunasinya.

Sumber: Majalah AL-FURQON no 87 edisi 06 th. ke-8 1430/2009

From → Kisah Teladan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: