Skip to content

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir (Nash dan Takhrij Hadits)

Desember 4, 2009
Kisah Musa dan Khidhir 1

Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Universitas Islam Yordania)

Pengantar

Kisah Musa dengan Khidhir yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi termasuk kisah yang utama. Musa pergi dari kotanya untuk mencari ilmu ketika Tuhannya memberitahukan kepadanya bahwa di bumi ini terdapat seseorang yang lebih alim darinya. Dalam Sunnah Nabi terdapat tambahan keterangan dari apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan kepada kita sebab perginya Musa dari kotanya, sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita tentang nama hamba shalih yang dicari-cari Musa, dan sebagian dari ucapannya dan keadaannya.

Nash Hadits

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia bercerita, ”Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas, bahwa Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dari sahabat Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, “Musuh Allah itu telah berdusta.” Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya, ‘Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?’ Ia menjawab, ’Aku.’ Maka Allah mencelanya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ’Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.’ Musa berkata, ’Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?’ Dia berfirman, ’Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.’

Maka Musa mengambil seekor ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Lalu dia pergi bersama seorang pemuda bernama Yusya’ bin Nun. Ketika keduanya mendatangi batu karang, keduanya merebahkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu menggelepar di dalam keranjang, hingga keluar darinya dan jatuh ke laut. “Kemudian ikan itu mengambil jalannya ke laut.” (QS. Al-Kahfi: 61). Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan jalannya air dari ikan itu, maka jadilah air itu seperti lingkaran.

Kemudian sahabat Musa (Yusya’) terbangun dan lupa memberitahukan kepada Musa tentang ikan itu. Mereka terus berjalan menempuh perjalanan siang dan malam. Pada keesokan harinya, Musa berkata kepada pemuda itu, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (QS. Al-Kahfi: 62). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebutkan bahwa Musa tidak merasa kelelahan sehingga ia berhasil mencapai tempat yang ditunjukkan oleh Allah Taala. Maka sahabatnya itu berkata, “Tahukah engkau, ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku telah lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang menjadikanku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (QS. Al-Kahfi: 63).

Beliau berkata, “Ikan itu memperoleh jalan keluar, tetapi bagi Musa dan sahabatnya, yang demikian itu merupakan kejadian yang luar biasa.” Maka Musa berkata kepadanya, “‘Itulah tempat yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64)

Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menceritakan, “Kemudian mereka berdua kembali lagi mengikuti jejak mereka semula hingga akhirnya sampai ke batu karang. Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang mengenakan pakaian rapi. Musa mengucapkan salam kepadanya.” Khidhir pun berkata, “Sesungguhnya aku mendapatkan kedamaian di negerimu ini.” “Aku Musa,” paparnya. Khidhir bertanya, “Musa pemimpin Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya. Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkan kepadaku apa yang engkau ketahui.” “Khidhir menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’ (QS. Al-Kahfi: 67). Hai Musa, aku mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak kumiliki.” Maka Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” (QS. Al-Kahfi: 69).” Maka Khidhir berkata kepada Musa, “Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.” (QS. Al-Kahfi: 70)

Maka berjalanlah keduanya. Mereka berjalan menelusuri pantai, hingga akhirnya sebuah perahu melintasi keduanya. Lalu keduanya meminta agar pemiliknya mau mengantarnya. Mereka mengetahui bahwa orang itu adalah Khidhir. Mereka pun membawa keduanya tanpa upah. Ketika keduanya menaiki perahu itu, Musa merasa terkejut karena Khidhir melubangi perahu tersebut dengan kapak. Musa pun berkata, “Orang-orang itu telah membawa kita tanpa upah, tetapi engkau malah melubangi perahu mereka, “Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya engkau menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71) “Khidhir berkata, ‘Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.” (QS. Al-Kahfi: 72). “Musa berkata, ‘Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al-Kahfi: 73)

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Yang pertama itu dilakukan Musa karena lupa. Lalu ada burung hinggap di tepi perahu dan minum sekali atau dua kali patokan ke laut. Maka Khidhir berkata kepada Musa, ‘Jika ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, maka ilmu kita itu tidak lain hanyalah seperti air yang diambil oleh burung itu dengan paruhnya dari laut.”

Setelah itu keduanya keluar dari perahu. Ketika keduanya sedang berjalan di tepi laut, Khidhir melihat seorang anak yang tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Maka Khidhir menjambak rambut anak itu dengan tangannya dan membunuhnya. Musa berkata kepada Khidhir, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang munkar.’ Khidhir berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 74-75). Yang kedua ini lebih parah dari yang pertama.

“Musa berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah dua kali ini, maka janganlah engkau memperbolehkan diriku menyertaimu, sesungguhnya engkau telah cukup memberikan udzur kepadaku.” (QS. Al-Kahfi: 76). “Maka keduanya berjalan hingga ketika mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di negeri itu dinding rumah yang hampir roboh.” (QS. Al-Kahfi: 77) –yakni, miring. Lalu Khidhir berdiri dan, “Khidhir menegakkan dinding itu,” dengan tangannya. Selanjutnya Musa berkata, “Kita telah mendatangi suatu kaum tetapi mereka tidak mau menjamu kita dan tidak pula menyambut kita, ‘Jikalau engkau mau, niscaya engkau dapat mengambil upah untuk itu.” (QS. Al- Kahfi: 77) “Khidhir berkata, ‘Inilah perpisahan antara diriku dan dirimu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78)

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,”Kami ingin Musa bisa bersabar sehingga Allah menceritakan kepada kita tentang keduanya.”

Said bin Jubair menceritakan, Ibnu Abbas membaca: “Dan di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang baik dengan cara yang tidak benar.” (QS. Al-Kahfi: 79). Ia juga membaca seperti ini, “Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah mukmin.” (QS. Al-Kahfi: 80)

Dalam riwayat lain dalam Shahihain dari Said bin Jubair berkata, “Kami sedang bersama Ibnu Abbas di rumahnya. Dia berkata, ‘Bertanyalah kalian kepadaku.” Aku berkata, ’Wahai Ibnu Abbas, semoga Allah menjadikanku sebagai penggantimu. Di Kufah terdapat seorang tukang cerita yang bernama Nauf. Dia mengklaim bahwa dia bukan Musa Bani Israil. Adapun Amru, dia berkata kepadaku, ‘Musuh Allah telah dusta.’ Adapun Ya’la, dia berkata kepadaku, Ibnu Abbas berkata, Ubay bin Kaab menyampaikan kepadaku, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Musa ‘Alayhi Salam, suatu hari dia menasihati kaumnya sampai ketika air mata bercucuran dan hati menjadi lunak, dia pulang. Seorang laki-laki menyusulnya, dia berkata kepada Musa, ‘Wahai Rasulullah, apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak ada.’ Maka Allah menyalahkan Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Dikatakan kepada Musa, “Ada yang lebih alim darimu.” Musa bertanya, “Ya Tuhanku, di mana?” Allah menjawab, “Di tempat bertemunya dua laut.”

Musa berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah untukku sebuah tanda yang bisa aku kenal.” Amru berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, “Di tempat di mana ikan meninggalkanmu.” Ya’la berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, “Ambillah ikan yang telah mati yang bisa ditiupkan ruh kepadanya.” Maka Musa membawa ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Musa berkata kepada pelayannya, “Aku tidak membebanimu apa pun kecuali kamu harus memberitahuku jika ikan itu lepas darimu.” Pelayan menjawab, “Bukan beban berat.” Itulah firman Allah Azza wa Jalla, “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya.” (QS. Al-Kahfi: 60). Dan murid tersebut adalah Yusya’ bin Nun. Riwayat ini bukan dari Said.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meneruskan, “Manakala Musa berteduh di bawah batu besar di tempat Tsaryan (yang basah), tiba-tiba ikan itu berontak, sementara Musa sedang tidur. Maka muridnya berkata, “Aku tidak akan membangunkannya.” Tetapi ketika Musa bangun, dia lupa memberitahukan kepadanya. Ikan itu berontak hingga melompat ke laut. Allah menahan jalannya air dari ikan itu sehingga bekasnya seolah-olah di batu.” Amru berkata kepadaku bahwa bekasnya seolah-olah di batu. Amru melingkarkan antara kedua ibu jarinya dan kedua telunjuknya.

“Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (QS. Al-Kahfi: 62). Dia berkata, “Allah telah menghentikan keletihan darimu.” Riwayat ini bukan dari Said. Yusya’ memberitahu Musa, lalu keduanya pun kembali dan menemukan Khidhir. Usman bin Abu Sulaiman berkata kepadaku, “Khidhir duduk di atas permadani hijau di tengah laut.” Said bin Jubair berkata, “Berselimut kain, salah satu ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.” Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir membuka wajahnya dan berkata, “Apakah di negerimu ada keselamatan? Siapa kamu?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa.” Khidhir bertanya, “Musa Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya.” Khidhir bertanya, “Apa keperluanmu?” Musa menjawab, “Aku datang agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” Khidhir berkata, “Apakah kamu belum merasa cukup? Taurat ada di tanganmu dan wahyu datang kepadamu. Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak sepatutnya kamu ketahui, dan sesungguhnya kamu memiliki ilmu yang tidak sepatutnya aku ketahui.” Lalu datanglah seekor burung yang mengambil air laut dengan paruhnya. Khidhir berkata, “Demi Allah, ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti apa yang diambil burung itu dari laut dengan paruhnya.”

Ketika keduanya naik perahu dan mendapati perahu-perahu kecil yang menyeberangkan penghuni pantai ini ke pantai itu, mereka mengenalnya. Mereka berkata, “Hamba Allah yang shalih.” Dia berkata, “Kami bertanya kepada Said, “Khidhir?” Dia menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Kami tidak meminta ongkos.” Maka Khidhir melubanginya dan menancapkan patok kepadanya. Musa berkata, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang berakibat para penumpangnya akan tenggelam. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan kesalahan besar.” (QS. Al-Kahfi: 71). Mujahid berkata, “Kemunkaran.” “Khidhir berkata, ‘Bukankah kamu telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali akan sabar bersama denganku.” (QS. Al-Kahfi: 72). Yang pertama dilakukan oleh Musa karena lupa, yang kedua karena syarat, dan yang ketiga adalah kesengajaan. “Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al-Kahfi: 73)

Keduanya bertemu dengan seorang anak, lalu Khidhir membunuhnya. Ya’la berkata, Said berkata, “Dia mendapatkan beberapa anak sedang bermain, maka Khidhir mengambil seorang anak yang kafir dan tampan, lalu dia membaringkannya dan menyembelihnya dengan pisau.” “Musa berkata, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?” (QS. Al-Kahfi: 74)

Dia belum melakukan ingkar sumpah. Dan Ibnu Abbas membaca زآ dengan زاآ yang muslim, seperti membaca زآ م¤ . “Lalu keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta dijamu oleh penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu menolak menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Khidhir pun menegakkan dinding itu.” (QS. Al-Kahfi: 77). Said memberi isyarat dengan tangannya begini, dia mengangkat tangannya hingga lurus. Ya’la berkata, “Menurutku Said berkata, ‘Maka dia mengusapnya dengan tangannya dan ia pun lurus.” “Musa berkata, ‘Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” (QS. Al-Kahfi: 77)

“Karena di hadapan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 79), yakni di depan mereka. Ibnu Abbas membacanya, م م أم . Mereka mengklaim bukan dari Said, bahwa dia adalah Hudad bin Budad, dan anak yang dibunuh – menurut mereka – bernama Jaisur. “Ada seorang raja yang merampas setiap perahu.” (QS. Al- Kahfi: 79). Maka aku ingin jika ia melewatinya, dia tidak mengambilnya karena cacatnya. Jika mereka telah lewat, maka mereka bisa memperbaiki dan memanfaatkannya. Di kalangan mereka ada yang bilang, “Sumpallah dengan botol.” Ada yang bilang, dengan aspal.

“Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang mukmin” (QS. Al-

Kahfi: 80), dan anak itu adalah kafir. “Dan kami khawatir dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran.” (QS. Al-Kahfi: 80). Yakni, kecintaan kedua orang tuanya kepadanya membuat keduanya mengikutinya dalam agamanya.

“Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anak itu.” (QS. Al-Kahfi: 81). Ini sebagai jawaban atas ucapannya, “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih.” (QS. Al-Kahfi: 74) “Dan lebih berkasih sayang kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Kahfi: 81). Keduanya lebih sayang kepadanya daripada kepada anak pertama yang dibunuh Khidhir. Selain Said mengklaim bahwa keduanya diberi pengganti anak perempuan. Adapun Dawud bin Ashim, dia berkata dari beberapa orang bahwa penggantinya adalah anak perempuan.

Dalam riwayat ketiga, dari Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas berdebat dengan Al-Hur bin Qais bin Hish Al-Fazari tentang sohib Musa. Ubay bin Kaab melewati keduanya, lalu Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata, “Aku dan temanku ini berdebat tentang sohib Musa, di mana Musa bertanya tentang jalan untuk bertemu dengannya. Apakah kamu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyinggungnya?”

Ubay menjawab, “Ya, aku telah mendengar Nabi menyinggungnya. Beliau bersabda, ‘Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh seorang laki-laki. Dia berkata, ‘Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak.’ Maka Allah mewahyukan kepada Musa, ’Ada, yaitu hamba Kami bernama Khidhir.’ Maka Musa bertanya bagaimana menemuinya.

Allah memberinya satu tanda, yaitu seekor ikan. Dikatakan kepada Musa, ’Jika kamu kehilangan ikan, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.’ Musa pun menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkata kepadanya, “Tahukah kami ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan.” (QS. Al-Kahfi: 63). “Musa menjawab, ‘Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula.” (QS. Al-Kahfi: 64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah diceritakan Allah dalam Kitab-Nya.

Ketiga hadits di atas adalah riwayat Bukhari.

Takhrij Hadits

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul Ilmi dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Kaab, keterangan tentang perginya Musa ke laut kepada Khidhir, 1/168, no. 74. Diriwayatkan dalam bab pergi untuk mencari ilmu, 1/174, no. 78; dalam bab apa yang dianjurkan kepada seorang alim jika dia ditanya siapa manusia paling alim, maka hendaknya dia menyerahkan ilmunya kepada Allah, 1/217, no. 122.

Diriwayatkan dalam Kitabul Ijarah, bab jika menyewa seorang pegawai untuk meluruskan tembok, 4/445, no. 2267.

Dalam Kitabusy Syuruth, bab syarat syarat kepada orang dengan ucapan, 5/326, no. 2276.

Dalam Kitab Bad’il Khalqi, bab sifat iblis dan bala tentaranya, 6/326, no. 3278. Dalam Kitab Ahaditsil Anbiya’, bab hadits Khidhir dengan Musa, 6/431, no. 3400, 3401.

Dalam Kitab Tafsir bab ‘Ketika Musa berkata kepada muridnya’ (QS. Al-Kahfi: 60), 8/409, no. 4725. Dalam bab ‘Ketika keduanya sampai di pertemuan antara dua laut’ (QS. Al-Kahfi: 61), 8/422, no. 4726. Dalam bab ‘Dia berkata, ‘Tahukah kamu ketika kita berteduh di batu itu’ (QS. Al-Kahfi: 63), 8/422, no. 4727.

Diriwayatkan dalam Kitabul Aiman wan Nudzur, bab jika menyalahi sumpah karena lupa, 11/550, no. 6672.

Dalam Kitabut Tauhid, bab Masyi’ah dan Iradah, 13/448, no. 448.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Ibnu Abbas dalam Kitabul Fadhail, bab di antara keutamaan Khidhir, 4/1847, no. 2380. Lihat Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 5/518.

Copyright Terjemahan dan Hardcopy buku rujukan artikel ini adalah milik Pustaka Elba

Baca juga mengenai penjelasan hadits dan pelajaran yang terkandung dari hadits di atas. Sesungguhnya kita sebagai orang awam akan kesulitan mencerna hadits tanpa penjelasan dari ‘ulama.

From → Kisah Para Nabi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: