Skip to content

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir (Penjelasan dan Kandungan Hadits)

Desember 4, 2009
ocean

Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Universitas Islam Yordania)

Penjelasan Hadits

Suatu hari Musa berpidato di hadapan Bani Israil. Musa menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai banyak ilmu.

Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung terkagum-kagum, mereka dengan apa yang mereka dengar. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Musa, “Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?” Musa menjawab, “Tidak.”

Musa adalah salah seorang Rasul yang agung. Dia termasuk dari lima Rasul Ulul Azmi. Musa menempati di urutan ketiga di antara para Nabi dan Rasul. Ibrahim berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan pertama. Musa adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, berapa pun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, “Wallahu a’lam.” Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah.

Allah mencela Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Dia mewahyukan kepadanya, “Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki.” Manakala Musa menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya. Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah memerintahkan Musa supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah menghidupkan ikan itu. Musa berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut. Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Musa berbaring di balik batu untuk beristirahat dari letihnya perjalanan. Di sinilah ikan itu bergerakgerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah menahan laju air dari ikan tersebut.

Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Musa karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan. Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Musa meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu barulah kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Musa dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Musa berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas.

Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya. Musa langsung memberi salam, “Assalamu’alaikum.” Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, “Dari mana salam di bumiku.” Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.

Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Musa kepada dirinya, “Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?” Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah khususkan untuknya. “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku.”

Musa meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, “Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku.” Musa pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Musa agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan menerangkannya.

Musa dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberang secara gratis.

Musa dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Musa, “Demi Allah, ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut.”

Ketika keduanya berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari. Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar.” (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.” (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Musa yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah.

Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar.” (QS. Al-Kahfi: 74) Pengingkaran Musa dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)

Di sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Musa. Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya. Dan kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.

Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Musa dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis. Di sini Musa memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.

Seandainya Musa bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.

Pelajaran-pelajaran dan Faedah-faedah Hadits

  1. Dialog dan berbincang dalam urusan ilmu. Ibnu Abbas berbeda pendapat dengan Hur bin Qais tentang nama laki-laki yang dituju oleh Musa. Apakah dia Khidhir atau bukan, dan keduanya mencari ilmu kepada orang yang memiliki ilmu. Maka Ubay bin Kaab meriwayatkan untuk keduanya dari Rasulullah tentang hadits tersebut yang menunjukkan kebenaran pendapat Ibnu Abbas.
  2. Seorang alim harus menyebarkan ilmunya di antara umat manusia. Terlebih jika ilmu itu merupakan kata putus dalam urusan yang diperselisihkan oleh manusia Ubay bin Kaab meriwayatkan hadits kepada Ibnu Abbas dan Hur bin Qais di mana hadits itu menjadi hakim dalam urusan yang mereka perselisihkan. Dan Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini kepada teman-temannya sebagai bantahan kepada Nauf Al-Bakali yang mengklaim bahwa sohib Khidhir bukanlah Musa Bani Israil.
  3. Para ulama pewaris para Nabi harus mengambil petunjuk para Nabi dengan mengingatkan manusia kepada Tuhan mereka, membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka demi mensucikan jiwa mereka, melunakkan hati mereka hingga menjadi dekat kepada Tuhan mereka, seperti yang dilakukan oleh Musa dalam nasihatnya.
  4. Keutamaan bepergian mencari ilmu. Musa pergi mencari orang yang lebih alim darinya. Keutamaan dan kedudukannya tidak menghalanginya untuk mengikuti orang yang diharapkan bisa menularkan ilmu kepadanya.
  5. Anjuran melayani ahli ilmu dan kebaikan. Yusya’ melayani Musa. Anas bin Malik melayani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
  6. Boleh menyampaikan keletihan dan kelelahan berdasarkan ucapan Musa, “Sungguh, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (QS. Al-Kahfi: 62). Sama dengan hal ini adalah ketika seseorang memberitakan sakit yang dirasakannya, dengan catatan: pemberitaan itu tidak sampai pada tingkat kemarahan terhadap takdir.
  7. Khidhir hanya mengetahui perkara ghaib yang Allah sampaikan kepadanya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui nama Musa sebelum dia menanyakannya. Khidhir juga tidak mengetahui maksud kedatangan Musa.
  8. Kemampuan Allah menghidupkan yang mati. Dengan kodrat-Nya Dia menghidupkan ikan yang mati dan asin. Dan perjalanan ikan di laut mengandung tanda kekuasaan Allah yang lain, “Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut.” (QS. Al-Kahfi: 61)
  9. Berlemah lembut kepada pengikut dan pembantu. Pemuda yang menyertai Musa lupa memberitahu Musa tentang ikan yang telah dihidupkan oleh Allah. Hal ini membuat keduanya melakukan perjalanan lebih panjang dari yang diperlukan, namun Musa tidak menyalahkan dan tidak memarahinya.
  10. Tidak semua yang seseorang mengira bisa melakukannya, dia benar-benar melakukannya. Musa berkata kepada hamba shalih, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 69). Kemudian, terbuktilah kebenaran dugaan hamba shalih itu, bahwa Musa tidak mampu bersabar.
  11. Hamba shalih ini melubangi perahu dan membunuh seorang anak. Dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya adalah dengan perintah dan kehendak Allah. “Sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukannya aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri.” (QS. Al-Kahfi: 82) Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi siapa pun yang tidak memperoleh wahyu dari langit dan tidak menerima sedikit pun ilmu Allah untuk merusak, membunuh dan membuat onar, dengan mengklaim bahwa perbuatannya itu mengandung hikmah yang tersembunyi. Hamba shalih itu bukan pengikut Musa, bukan pula pengikut Muhammad. Jika dia pengikut salah satu dari keduanya, niscaya dia tidak boleh melanggar syariat yang berlaku.
  12. Siapa yang bertekad melakukan sesuatu di masa datang, hendaknya dia mengucapkan, “Insya Allah.” Sebagaimana ucapan Musa, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar.” (QS. Al-Kahfi: 69) Dan firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok pagi. Kecuali dengan menyebut insya Allah.'” (QS. Al-Kahfi: 23-24)
  13. Di antara adab mencari ilmu adalah, hendaknya murid bersabar dan patuh kepada muallim, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun.” (QS. Al-Kahfi: 69)
  14. Minimnya ilmu manusia di hadapan Allah. Hamba shalih itu berkata kepada Musa, “Ilmuku dan ilmumu di depan ilmu Allah hanyalah seperti yang diambil oleh burung itu dari laut.”
  15. Seorang hamba kadangkala tidak menyadari hikmah di balik takdir Allah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Kemudian, terungkaplah baginya apa yang dia kira sebagai cobaan dan ujian, ternyata adalah kebaikan dan nikmat. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pemilik perahu, dan dua orang tua anak yang dibunuh oleh Khidhir.
  16. Bisa saja Allah menyediakan kebaikan bagi anak karena kebaikan bapak. Hamba shalih itu meluruskan dinding demi menjaga kekayaan yang ditinggalkan oleh bapak shalih kepada anak-anaknya.
  17. Bersikap sopan kepada Allah dengan menisbatkan kebaikan kepada-Nya, “Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya.” (QS. Al-Kahfi: 82) Dan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. Hamba shalih tersebut menisbatkannya kepada dirinya sendiri, “Dan aku ingin merusaknya.” (QS. Al-Kahfi: 79). Dan pemuda yang bersama Musa menyandarkan kealpaan kepada setan, “Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan.” (QS. Al-Kahfi: 63)
  18. Melakukan sesuatu yang berdampak negatif paling ringan demi menghindari perkara yang lebih buruk. Hamba shalih itu merusak perahu, untuk menjaga perahu, karena jika perahu itu dibiarkan tanpa cacat niscaya ia akan dirampas oleh raja yang gemar mengambil perahu yang baik.
  19. Merusak sebagian harta demi menjaga harta secara keseluruhan. Khidhir merusak perahu demi menjaganya, sebagaimana dokter memotong tangan yang sakit karena dikhawatirkan penyakit itu akan menyebar ke seluruh tubuh pasiennya.
  20. Diperbolehkannya naik perahu, seperti yang dilakukan oleh Musa dan hamba shalih.
  21. Anjuran membawa bekal dalam bepergian. Musa berkata kepada pemuda yang menyertainya, “Siapkan makan siang kita.” Jika keduanya tidak membawa makanan, niscaya Musa tidak akan meminta makanan. Sebagian orang di kalangan umat ini telah mengklaim bahwa membawa bekal di perjalanan, khususnya haji, termasuk menafikan tawakal. Mereka salah, karena Allah telah meminta pada jamaah haji agar berbekal untuk safar mereka. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)
  22. Anjuran mencari makan jika di suatu kota terdapat tempat khusus untuk menjual makanan.
  23. Hadits ahad diterima dalam bidang akidah. Lain halnya dengan pendapat yang mengatakan hadits ahad tertolak di bidang akidah. Ibnu Abbas menerima hadits Ubay bin Kaab yang hanya seorang. Para murid Ibnu Abbas menerima hadits Ibnu Abbas yang hanya seorang, dan berita-berita para Nabi termasuk akidah.
  24. Kesalahan pendapat yang berkata bahwa Khidhir hidup sampai pada masa kini. Ini adalah pendapat tanpa dalil. Jika Khidhir hidup, niscaya dia pasti datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan mengikutinya. Para ulama besar seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Abu Faraj Ibnul Jauzi telah menyatakan bahwa hadits-hadits yang memberitakan kehidupan Khidhir, tidaklah shahih (Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim, 67. Al-Bidayah wal Nihayah, 1/334; Al-Maudu’at, Ibnul Jauzi, 1/197.). Sebagian penulis banyak menukil kisah-kisah yang menunjukkan hidupnya, Khidhir dan semua kisah itu adalah batil.
  25. Hendaklah seseorang bersikap hati-hati dalam mengingkari orang yang berilmu lagi baik, dengan menanyakan alasan mereka yang diduga menyelisihi kebenaran. Musa melihat perbuatan hamba shalih itu salah, padahal sebenarnya benar.

Copyright Terjemahan dan Hardcopy buku rujukan artikel ini adalah milik Pustaka Elba

From → Kisah Para Nabi

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: