Skip to content

Pecah Belahnya Ummat Islam

Desember 5, 2009
Exif_JPEG_PICTURE

Satu hal yang menjadi fenomena umum yang terjadi pada masyarakat kaum muslimin adalah terpecah-belahnya ummat menjadi banyak golongan, tiap golongan mempunyai cara berfikir sendiri, tiap golongan memiliki imam/pemimpin yang diikuti kata-katanya.

Beberapa orang menganggap hal ini baik, karena ini menunjukkan luasnya toleransi di dalam Islam, di mana setiap orang berhak untuk mengemukakan pendapatnya, karena Islam tidak mengekang seseorang untuk mengikuti salah satu pendapat saja. Sebagian lagi menganggap hal ini buruk, karena banyaknya kelompok atau golongan menyebabkan ummat Islam terpecah-belah, masing-masing mengikuti imam/pemimpinnya, di mana hal ini membuat ummat Islam itu menjadi lemah, menjadi gampang diserang oleh pihak lain, menjadi mudah diobok-obok oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Lantas, siapa yang benar kalau begitu?

Apakah Perpecahan Itu Benar-benar Ada?

Jauh sebelum kita lahir, jauh sebelum bapak-bapak kita muncul di dunia ini, dan jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih seperti hari ini, telah keluar ucapan dari lisan manusia paling mulia, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberitakan tentang perpecahan di tubuh ummat Islam sekarang ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan ummat Nasrani telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara ummat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.”1

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan perpecahan ummat ini ketika beliau masih hidup. Beliau mendapat wahyu dari Allah bahwa ummat Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh sekian golongan. Namun, apakah ini lantas berarti kita boleh berpecah belah? Tentu tidak, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an,:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Maka hendaknya sikap kita dalam menghadapi kenyataan bahwa ummat ini berpecah belah adalah memilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan yang benar. Bagaimana kita bisa tahu kita berada di jalan yang benar dan meninggalkan kelompok-kelompok yang tersesat? Inilah substansi penting dari artikel ini. Inilah pokok permasalahan yang mengundang kebingungan di kalangan ummat Islam. Inilah kenyataan penting yang banyak dari saudara-saudara kita tidak mengetahuinya, yang kadang kala ditutup-tutupi oleh sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab yang menginginkan hal lain di balik pecah-belahnya ummat ini.

Manakah Jalan yang Benar?

Sebenarnya, banyak sekali dalil-dalil atau argumentasi-argumentasi yang menjelaskan masalah ini, yang menunjukkan jalan yang benar kepada kita, dan memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan kelompok-kelompok sesat di dalam Islam, namun hanya sedikit yang akan penulis sampaikan di sini.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”2

  2. Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kita jumpai melainkan dengan bahasa Arab. Untuk memahami apa yang terkandung di dalam sebuah ayat al-Qur’an ataupun Hadits, tentu seseorang harus memahami macam-macam disiplin ilmu yang mengantarkannya pada tingkat pemahaman yang benar terhadap keduanya. Ketiadaan ilmu-ilmu yang dibutuhkan pada seseorang akan menyebabkan biasnya makna yang sesungguhnya apabila dia mencoba menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits sesuai dengan pemahamannya pribadi. Para ‘ulama sangat ketat mengenai masalah ini, sehingga tidak semua orang boleh berbicara mengenai agama ini, karena bisa merusak pemahaman kaum muslimin yang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu kita harus memahami agama Islam ini sesuai dengan tuntunan manusia-manusia pilihan yang telah diberi pemahaman yang baik oleh Allah. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan oang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Maka barangsiapa yang menjumpai itu (perpecahan ummat) hendaknya dia berpegang kepada Sunnahku (jalanku) dan Sunnah para kholifah yang menunjukkan kepada kebaikan dan mendapat petunjuk, gigitlah Sunnah ini dengan gigi geraham.”3

  3. Di sisi lain, Allah juga mengancam orang-orang yang menolak pemahaman para sahabat dengan ancaman kesesatan. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim yang masih sedikit ilmu agama ini mengisi ruang hati kita, hendaknya berhati-hati dalam mengambil pendapat, hendaknya berhati-hati dalam menentukan benar tidaknya suatu hal, hendaknya berhati-hati dalam mendengarkan suatu kajian/ceramah Islam. Siapa orang yang berpendapat? Siapa orang yang mengatakan ini salah dan itu benar? Siapa orang yang mengisi kajian di masjid-masjid kita? Apakah wawasan keilmuannya cukup? Apakah dia mengembalikan sesuatu kepada pemahaman para sahabat? Apakah dia menghormati para sahabat dan membawakan ucapan-ucapan para ‘ulama? Atau malah dia mencaci para sahabat? Atau dia berbicara tanpa didasari dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits?

Tulisan ini hanya mengangkat sedikit dari permasalahan mengenai pecah belahnya ummat Islam. Meski demikian, paling tidak, penulis berharap tulisan ini bisa sedikit memberi pagar pada jalan-jalan yang ditempuh oleh saudara-saudara sesama muslim, agar kita bisa memilah dan memilih mana jalan yang benar mana jalan yang salah, agar pemikiran kita sedikit terbuka dan mulai memahami, sedang berada di jalur manakah kita sekarang ini?

Rujukan: artikel-artikel di almanhaj.or.id

Jika ingin menambah wawasan mengenai keyakinan yang benar yang harus kita ikuti, silakan download ebook-nya di sini, atau silakan langsung ke sumbernya.

——————————-

1Hadits ini sangat terkenal, dibawakan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan dalam kitab-kitab hadits para ‘ulama, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan lain-lain. Dan hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ‘ulama.

2Hadits riwayat Imam Malik no. 1395, dihasankan oleh ahli hadits terkemuka abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam kitab beliau Manzilatus Sunnah fil Islam.

3Hadits riwayat Tirmidzi no. 2600 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah.

Pecah Belahnya Ummat Islam

Satu hal yang menjadi fenomena umum yang terjadi pada masyarakat kaum muslimin adalah terpecah-belahnya ummat menjadi banyak golongan, tiap golongan mempunyai cara berfikir sendiri, tiap golongan memiliki imam/pemimpin yang diikuti kata-katanya.

Beberapa orang menganggap hal ini baik, karena ini menunjukkan luasnya toleransi di dalam Islam, di mana setiap orang berhak untuk mengemukakan pendapatnya, karena Islam tidak mengekang seseorang untuk mengikuti salah satu pendapat saja. Sebagian lagi menganggap hal ini buruk, karena banyaknya kelompok atau golongan menyebabkan ummat Islam terpecah-belah, masing-masing mengikuti imam/pemimpinnya, di mana hal ini membuat ummat Islam itu menjadi lemah, menjadi gampang diserang oleh pihak lain, menjadi mudah diobok-obok oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Lantas, siapa yang benar kalau begitu?

Apakah Perpecahan Itu Benar-benar Ada?

Jauh sebelum kita lahir, jauh sebelum bapak-bapak kita muncul di dunia ini, dan jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih seperti hari ini, telah keluar ucapan dari lisan manusia paling mulia, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberitakan tentang perpecahan di tubuh ummat Islam sekarang ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ummat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan ummat Nasrani telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara ummat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.”1

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan perpecahan ummat ini ketika beliau masih hidup. Beliau mendapat wahyu dari Allah bahwa ummat Islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh sekian golongan. Namun, apakah ini lantas berarti kita boleh berpecah belah? Tentu tidak, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an,:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Maka hendaknya sikap kita dalam menghadapi kenyataan bahwa ummat ini berpecah belah adalah memilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan yang benar. Bagaimana kita bisa tahu kita berada di jalan yang benar dan meninggalkan kelompok-kelompok yang tersesat? Inilah substansi penting dari artikel ini. Inilah pokok permasalahan yang mengundang kebingungan di kalangan ummat Islam. Inilah kenyataan penting yang banyak dari saudara-saudara kita tidak mengetahuinya, yang kadang kala ditutup-tutupi oleh sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab yang menginginkan hal lain di balik pecah-belahnya ummat ini.

Manakah Jalan yang Benar?

Sebenarnya, banyak sekali dalil-dalil atau argumentasi-argumentasi yang menjelaskan masalah ini, yang menunjukkan jalan yang benar kepada kita, dan memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan kelompok-kelompok sesat di dalam Islam, namun hanya sedikit yang akan penulis sampaikan di sini.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”2

  2. Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kita jumpai melainkan dengan bahasa Arab. Untuk memahami apa yang terkandung di dalam sebuah ayat al-Qur’an ataupun Hadits, tentu seseorang harus memahami macam-macam disiplin ilmu yang mengantarkannya pada tingkat pemahaman yang benar terhadap keduanya. Ketiadaan ilmu-ilmu yang dibutuhkan pada seseorang akan menyebabkan biasnya makna yang sesungguhnya apabila dia mencoba menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits sesuai dengan pemahamannya pribadi. Para ‘ulama sangat ketat mengenai masalah ini, sehingga tidak semua orang boleh berbicara mengenai agama ini, karena bisa merusak pemahaman kaum muslimin yang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu kita harus memahami agama Islam ini sesuai dengan tuntunan manusia-manusia pilihan yang telah diberi pemahaman yang baik oleh Allah. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan oang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Maka barangsiapa yang menjumpai itu (perpecahan ummat) hendaknya dia berpegang kepada Sunnahku (jalanku) dan Sunnah para kholifah yang menunjukkan kepada kebaikan dan mendapat petunjuk, gigitlah Sunnah ini dengan gigi geraham.”3

  1. Di sisi lain, Allah juga mengancam orang-orang yang menolak pemahaman para sahabat dengan ancaman kesesatan. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim yang masih sedikit ilmu agama ini mengisi ruang hati kita, hendaknya berhati-hati dalam mengambil pendapat, hendaknya berhati-hati dalam menentukan benar tidaknya suatu hal, hendaknya berhati-hati dalam mendengarkan suatu kajian/ceramah Islam. Siapa orang yang berpendapat? Siapa orang yang mengatakan ini salah dan itu benar? Siapa orang yang mengisi kajian di masjid-masjid kita? Apakah wawasan keilmuannya cukup? Apakah dia mengembalikan sesuatu kepada pemahaman para sahabat? Apakah dia menghormati para sahabat dan membawakan ucapan-ucapan para ‘ulama? Atau malah dia mencaci para sahabat? Atau dia berbicara tanpa didasari dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits?

Tulisan ini hanya mengangkat sedikit dari permasalahan mengenai pecah belahnya ummat Islam. Meski demikian, paling tidak, penulis berharap tulisan ini bisa sedikit memberi pagar pada jalan-jalan yang ditempuh oleh saudara-saudara sesama muslim, agar kita bisa memilah dan memilih mana jalan yang benar mana jalan yang salah, agar pemikiran kita sedikit terbuka dan mulai memahami, sedang berada di jalur manakah kita sekarang ini?

Rujukan: artikel-artikel di almanhaj.or.id

Jika ingin menambah wawasan mengenai keyakinan yang benar yang harus kita ikuti, silakan download ebook-nya di sini, atau silakan langsung ke sumbernya.

——————————-

1Hadits ini sangat terkenal, dibawakan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan dalam kitab-kitab hadits para ‘ulama, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan lain-lain. Dan hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ‘ulama.

2Hadits riwayat Imam Malik no. 1395, dihasankan oleh ahli hadits terkemuka abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam kitab beliau Manzilatus Sunnah fil Islam.

3Hadits riwayat Tirmidzi no. 2600 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah.

From → Keyakinanku

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: