Skip to content

Beribadah Sampai Datang “Al-Yakin”

Juli 19, 2010
grave

Ibadah kepada Allah adalah suatu tugas mulia seorang hamba. Tidak ada yang mengingkari kemuliaannya, kecuali orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak mengenal hakikat manusia sebagai hamba Allah.

Setiap orang yang telah melakukan satu bentuk ibadah kepada Allah dengan benar, secara ikhlas dan sesuai dengan tuntunan, niscaya Allah akan memberikan petunjuk baginya untuk lebih mendekat kepada-Nya. Lebih mendekat kepada-Nya dengan tetap konsisten terhadap ibadah-ibadah tersebut dan menambah ibadah  lain yang disyariatkan.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, niscaya Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan (berupa) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

Demikianlah, orang yang benar ibadahnya kepada Allah, dia akan senantiasa merasa butuh kepada Allah, akan bertambah keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga akhirnya dia pun meninggal dalam keadaan sebagai hamba Allah yang hakiki.

Al-Yakin = Kematian

Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tetap senantiasa beribadah kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sampai datangnya al-yakin. Allah berfirman, “Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu al-yakin.” (al-Hijr: 99)

Makna al-yakin dalam ayat ini adalah kematian. Inilah makna yang telah disepakati oleh para ulama. Dan dalil mereka atas tafsiran ini adalah firman Allah yang memberitakan tentang keadaan orang-orang kafir di neraka. Ketika para penghuni surga bertanya tentang keadaan para penghuni neraka, mereka berkata, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka)? Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al-yakin (kematian).'” (al-Muddatsir: 42-47)

Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi ketika wafatnya seorang sahabat yang mulia, Utsman bin Mazh’un. Ketika itu, di antara sabda beliau adalah, “Adapun dia (Utsman), demi Allah dia telah kedatangan al-yakin (kematian). Dan demi Allah, sungguh aku berharap kebaikan baginya.” (Riwayat al-Bukhari)

Selain itu, para ulama telah menjelaskan bahwa di antara tata cara agar seseorang bisa melakukan ibadah dengan khusyu’, adalah dengan mengingat kematian. Hal itu tidak lain karena seorang yang sadar dan berakal, jika dia mengetahui ajalnya telah dekat, niscaya dia tidak akan membangkang kepada Allah yang menguasai dunia dan akhirat. Dia akan tunduk kepada Allah dan lebih mendekat kepada-Nya.

Ini semua menunjukkan kepada kita, bahwa ibadah kepada Allah dengan syariat-syariat-Nya yang telah Dia tetapkan dan sampaikan melalui para rasul-Nya, senantiasa mengikat kita sampai tiba saat ruh berpisah dari jasadnya.

Kesalahan Fatal

Sungguh merupakan suatu kesalahan fatal yang bisa mengeluarkan seorang muslim dari agamanya, bila memahami makna al-yakin dalam ayat di atas (surat al-Hijr: 99) dengan makna ma’rifat. Sehingga dengan dasar pemahaman itu, mereka menyangka bahwa syariat shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya adalah bagi orang yang belum mencapai derajat ma’rifat. Adapun orang yang telah mencapai derajat ma’rifat, maka mereka tidak lagi wajib melaksanakan syariat-syariat semacam itu.

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya terhadap ayat 99 surat al-Hijr,

“Dan ini dijadikan dalil untuk menyalahkan orang-orang menyimpang yang berpendapat bahwa maksud al-yakin adalah ma’rifat, berarti telah gugur darinya kewajiban untuk beribadah. Ini adalah kekufuran, kesesatan, dan kebodohan. Karena para nabi dan para sahabat mereka adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah, paling tahu tentang hak-hak-Nya, sifat-sifat-Nya dan pengagungan yang berhak Dia dapatkan. Bersamaan dengan ini, mereka adalah orang-orang yang paling tunduk kepada-Nya, paling banyak ibadahnya, paling sering melakukan kebaikan, sampai datangnya kematian. Sesungguhnya maksud al-yakin di sini adalah kematian, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Segala pujian dan anugerah hanyalah milik Allah. Segala puji bagi Allah atas hidayah-Nya. Hanya kepada-Nya ditujukan permintaan tolong dan tawakal. Dialah Dzat yang diminta untuk mewafatkan kita dalam keadaan yang paling baik dan paling sempurna. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Mulia. Cukuplah Allah bagi kita, dan Dia sebaik-baik Dzat yang diserahi segala urusan.”

Sumber: Majalah Nikah Vol. 7, No. 6

From → Keyakinanku

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: