Skip to content

Berhati-hati Ketika Berdakwah

Juli 21, 2010
Berhati-hati Ketika Berdakwah

Suatu ketika Rasulullah mengutus pasukan ke daerah Hirqah dari Bani Juhainah. Di dalam pasukan itu terdapat Usamah bin Zaid. Mereka tiba di daerah itu pada pagi hari. Mereka pun langsung menyerbu.

Di tengah pertempuran yang sedang berlangsung itu, Usamah dan seorang dari Anshar berhadapan dengan seorang pasukan musuh. Mereka berdua berhasil mengalahkannya dan hendak membunuhnya. Spontan saja si musuh ini berkata, “Laa ilaha illallah!”

Orang Anshar itu langsung menarik pedangnya. Berbeda dengan Usamah, ia menusukkan tombaknya ke musuh tersebut hingga matilah ia.

Ketika kami telah sampai di hadapan Nabi, beliau dikabari tentang hal itu, lalu beliau berkata, “Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illallah?” Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya ingin berlindung dengan kalimat syahadat itu!”

Rasulullah bersabda, “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaaha illallah?” Rasulullah mengulang ucapan ini terus hingga Usamah berharap dirinya belum masuk Islam sebelum kejadian itu.

Kisah di atas merupakan contoh begitu besarnya perhatian Islam terhadap kehati-hatian atau al-anatu. Rasulullah adalah manusia yang paling besar kehati-hatian dan sikap tabayyun-nya. Beliau tidak membunuh seorang kafir pun kecuali jika telah yakin betul bahwa mereka tidak mau mendirikan syiar-syiar Islam.

Sikap penuh kehati-hatian atau al-anatu merupakan sikap penting yang harus dibahas lebih lanjut karena al-anatu merupakan rukun hikmah dalam berdakwah.

Pengertian Al-Anatu

Al-anatu berarti hati-hati, tidak tergesa-gesa. Ini makna dari sisi bahasa. Sedangkan dari sisi istilah, al-anatu berarti tindakan yang bijaksana antara tergesa-gesa dan berlambat-lambat.

Kehati-hatian merupakan simbol kesabaran, sifat orang yang berakal dan cerdik. Sedangkan tergesa-gesa merupakan sifat dasar orang tolol dan gegabah. Sifat tergesa-gesa menunjukkan bahwa pemiliknya tidak memiliki kehendak kuat yang mampu mengekang nafsunya di hadapan dorongan untuk tergesa-gesa. Di sisi lain, sifat lambat dan pelan merupakan sifat dasar orang yang malas dan suka meremehkan setiap perkara. Kedua sikap ini menunjukkan pemiliknya tidak mampu memompa semangat dan cita-cita dalam bertindak mewujudkan harapannya.

Pentingnya Berhati-hati

Sikap hati-hati di sisi seorang dai akan memberikan peluang kepadanya untuk menyempurnakan segala urusannya, dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ingatlah bahwa sikap hati-hati atau al-anatu merupakan salah satu rukun al-hikmah. Karena itulah, seorang dai dituntut untuk selalu memiliki akhlak mulia ini.

Perlu diperhatikan bahwa kehati-hatian adalah perkara yang relatif. Perkara yang menuntut untuk dikerjakan secara cepat, maka bijaksananya adalah mengerjakan dengan cepat pula, dan hal itu tidak mengeluarkannya dari al-anatu karena masalah di sini adalah masalah yang relatif. Begitu pula, perkara-perkara yang harus dikerjakan secara lambat maka bijaksananya harus dikerjakan secara lambat pula, dan hal itu pun tidak mengeluarkan dari lingkup al-anatu.

Al-anatu tidak memiliki batasan waktu yang tetap, ukurannya berbeda sesuai dengan perbedaan kebutuhan waktu dan hasil yang harus dicapai. Jadi, al-anatu tidaklah tergesa-gesa hingga mendahului waktu yang telah ditentukan, dan tidak pula berlambat-lambat dan malas.

Tergesa-gesa

Ada sifat negatif yang berkebalikan dengan al-anatu yang harus dibahas agar kita bisa lebih paham. Sifat negatif tersebut adalah isti’jal, yaitu mempercepat selesainya suatu perkara sebelum waktunya. Sebenarnya, tergesa-gesa ini sifat bawaan manusia. Allah berfirman,

خُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مِنۡ عَجَلٍ۬‌ۚ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَـٰتِى فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ

“Manusia telah dijadikan tergesa-gesa.” (Al-Anbiya’: 37)

Contoh sikap tergesa-gesa yang kerap menimpa seorang dai adalah tergesa-gesa mengharapkan turunnya siksa kepada penentang dakwah, ingin segera tampak berilmu sebelum benar-benar matang ilmunya, meninggalkan doa, dan minta segera diturunkan pertolongan tanpa mau memenuhi sebab-sebabnya.

Sikap tergesa-gesa mempunyai sebab-sebab yang wajib dijauhi dan dihindari, misalnya: tidak melihat kepada akibat yang bakal terjadi, dan juga tidak mau melihat sunnah Allah di alam ini. Setan merupakan musuh bebuyutan manusia, karena biang tergesa-gesa adalah setan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, “Hati-hati adalah dari Allah, sedang tergesa-gesa datangnya dari setan.” 1

Tergesa-gesa yang dicela ini berbeda dengan bersegera dalam kebaikan. Allah berfirman,

إِنَّهُمۡ ڪَانُواْ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٲتِ

“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik….” (Al-Anbiyaa’: 90)

Al-A’masy berkata, “Aku tidak mengetahui kecuali dari Nabi, yaitu bahwa berhati-hati dalam setiap perkara adalah baik kecuali dalam perkara akhirat.”

Mengobati Tergesa-gesa

Meraih sikap berhati-hati sama saja dengan mengobati sikap tergesa-gesa. Sedangkan mengobati ketergesa-gesaan adalah sebagai berikut:

  • Mengetahui bahwa janji Allah akan datang dan tidak diragukan lagi. Jika tergesa-gesa itu berupa keinginan agar siksa segera didatangkan kepada penentang dakwah, maka ketahuilah bahwa itu adalah penangguhan dari Allah. Allah berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim.” (Ibrahim: 42) Jika tergesa-gesa itu berupa keinginan agar pertolongan Allah segera datang-padahal sebab dan syarat pertolongan itu belum terpenuhi-, maka ketahuilah bahwa Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
  • Memperhatikan sunnatullah yang berlaku pada kaum zaman dahulu. Betapa banyak dari mereka yang dibinasakan, sehingga hancur tak bersisa kecuali tempat tinggalnya. Allah berfirman, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum mereka meminta kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.” (Ar-Ra’du: 6)
  • Tidak terjadinya sesuatu sesuai dengan permintaan orang yang tergesa-gesa, terkadang sebagai rahmat dari Allah. Sebagaimana firman-Nya, “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.” (Yunus: 11)
  • Memperbanyak latihan hati-hati, bersabar diri, dan bersungguh-sungguh untuk tidak tergesa-gesa. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
  • Bertakwa kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2) Allah berfirman, “Dan Tuhan kalian berfirman: berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan.” (Al-Mukmin: 60)

Jika seorang dai selalu menjaga diri dari sikap tergesa-gesa, dan selalu teliti serta berhati-hati, niscaya dia akan menjadi seorang yang berhati-hati. Dengan demikian, terwujudlah salah satu rukun hikmah dalam dakwah.

Di akhir zaman ini, begitu sedikit orang yang berhati-hati. Ketika salah seorang muslim melakukan kesalahan dengan melakukan bid’ah atau berbuat maksiat, begitu cepat kita menempelkan ahli bid’ah dan orang fasik kepada dirinya. Kita tidak berusaha mengetahui latar belakang ia berbuat salah. Ketika dakwah terhalang, begitu mudah kita berlepas diri dan menjauhi orang yang menghalangi dakwah kita. Semoga Allah memberi kita sikap berhati-hati dalam segala hal. Hanya Allah Sang Maha Penolong.

Sumber: Majalah Nikah Vol. 7, No. 6

_____

1 Riwayat Al-Baihaqi, Al-Albani mengatakan isnadnya hasan dan rijalnya terpercaya

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: